“Baru belajar 10 menit, kok sudah bosan?”
Buku masih terbuka. PR belum selesai. Tetapi anak sudah mulai melihat ke mana-mana, memainkan pensil, meminta minum, atau mencari alasan untuk meninggalkan meja belajar.
Tidak sedikit orang tua kemudian berkata, “Kamu kok malas belajar?”
Padahal, anak cepat bosan belajar belum tentu malas. Kebosanan bisa muncul karena materi terlalu mudah atau terlalu sulit, aktivitas yang monoton, kelelahan, kurangnya keterlibatan, atau metode belajar yang kurang sesuai dengan kebutuhan anak.
Penelitian tentang academic boredom juga menunjukkan bahwa kebosanan dalam belajar berkaitan dengan keterlibatan dan pencapaian akademik yang lebih rendah. Karena itu, yang perlu dicari bukan hanya cara membuat anak belajar lebih lama, tetapi cara membuat proses belajarnya lebih tepat.
Mengapa Anak Cepat Bosan Saat Belajar?
Coba perhatikan satu hal sederhana.
Ada anak yang cepat memahami pelajaran setelah melihat contoh konkret. Ada yang baru puas setelah mengetahui alasan dan logikanya. Anak lain justru antusias ketika boleh bereksperimen dan menemukan ide sendiri.
Ada pula yang lebih mudah belajar sambil berdiskusi dengan orang lain, sementara anak lainnya cepat menangkap sesuatu ketika langsung terlibat dan merespons situasi.
Artinya, memaksa semua anak belajar dengan metode yang sama belum tentu menghasilkan respons yang sama.
Di sinilah konsep STIFIn menawarkan salah satu perspektif untuk mengenali kecenderungan alami anak.
Bagaimana Cara Belajar Anak Menurut STIFIn?
Dalam konsep STIFIn terdapat lima Mesin Kecerdasan: Sensing, Thinking, Intuiting, Feeling, dan Insting. Masing-masing mempunyai kecenderungan dalam menerima dan mengolah informasi.
Sensing: Berikan Contoh Konkret
Anak Sensing cenderung lebih mudah belajar dengan mencontoh dan mengalami secara langsung. Gunakan benda nyata, latihan berulang, demonstrasi, warna, atau praktik.
Belajar matematika tentang uang? Jangan hanya membaca buku. Ajak bermain jual-beli.
Thinking: Ajak Menganalisa
Anak Thinking cenderung menyukai informasi yang logis dan terstruktur.
Daripada sekadar meminta menghafal, coba tanyakan:
“Menurut kamu, kenapa jawabannya seperti ini?”
Diagram, data, soal logika, tahapan yang sistematis, dan tantangan memecahkan masalah dapat membuat proses belajar lebih menarik.
Intuiting: Berikan Ruang untuk Ide
Anak Intuiting cenderung tertarik pada ide, pola, imajinasi, dan kemungkinan baru.
Berikan kesempatan bereksperimen.
Belajar tentang tata surya? Setelah membaca materi, tantang anak membuat desain kehidupan manusia di planet lain.
Ruang untuk berimajinasi dapat membuat materi terasa lebih hidup.
Feeling: Hidupkan Interaksi
Anak Feeling cenderung terbantu melalui orang, komunikasi, dan interaksi.
Cobalah berdiskusi, bercerita, belajar bersama, atau minta anak menjelaskan kembali pelajaran kepada ayah atau ibunya.
Jangan hanya berikan buku lalu meminta ia belajar sendirian.
Insting: Singkat, Cepat, Langsung Mencoba
Anak Insting cenderung responsif. Hindari penjelasan yang terlalu panjang jika inti materi sebenarnya bisa disampaikan secara sederhana.
Berikan gambaran besarnya, lalu ajak langsung bergerak dan mencoba.
Ringkas. Praktis. Variatif.
Jadi, Apa yang Harus Dilakukan Saat Anak Bosan Belajar?
Sebelum menambah les, mengambil gadget, atau memarahi anak, coba lakukan tiga hal:
Pertama, amati kapan anak kehilangan energi.
Apakah ketika membaca, menghafal, mendengarkan penjelasan panjang, atau mengerjakan soal berulang?
Kedua, cari aktivitas yang membuat matanya kembali berbinar.
Praktik? Tantangan? Membuat sesuatu? Berdiskusi? Atau langsung mencoba?
Ketiga, jangan buru-buru memberi label “malas”.
Pendekatan motivasi modern juga menunjukkan pentingnya rasa mampu, keterhubungan dengan orang lain, dan ruang untuk memiliki pilihan dalam mendukung motivasi belajar anak.
Kenali Anak Sebelum Menuntut Anak
Kadang masalahnya bukan anak tidak mau belajar.
Kita hanya belum menemukan pintu masuk yang tepat untuk membuatnya belajar.
STIFIn menggunakan lima Mesin Kecerdasan—Sensing, Thinking, Intuiting, Feeling, dan Insting—sebagai kerangka untuk memahami kecenderungan tersebut. Dalam materi STIFIn, kelimanya memang dibedakan antara lain dalam cara belajar: Sensing melalui contoh, Thinking melalui analisis, Intuiting melalui ide dan pola, Feeling melalui orang, serta Insting melalui respons.
Namun, hasil STIFIn sebaiknya digunakan sebagai salah satu perspektif, bukan satu-satunya dasar untuk menilai kemampuan atau menentukan masa depan anak.
Karena setiap anak unik.
Daripada terus bertanya:
“Kenapa anak saya susah belajar?”
Mungkin pertanyaan yang lebih berguna adalah:
“Sudahkah saya memahami bagaimana anak saya lebih mudah belajar?”
👉 Pelajari lebih lanjut tentang Tes STIFIn dan Mesin Kecerdasan.
👉 Ingin mengetahui informasi Tes STIFIn untuk anak? Konsultasi melalui WhatsApp 0818-0518-0808.


