Pastikan Ananda Tumbuh dan Berkembang Sesuai Dengan “Dunianya”

Penjelasan STIFIn Mengapa Begini Mengapa Begitu- tesstifin.id 081805180808
Hasil tes STIFIn seseorang pada dasarnya adalah penjelasan potensi genetik, bukan deskripsi tentang perilaku atau sifat ybs pada saat melakukan tes STIFIn.
Andhika Harya STIFIn Institute - Pastikan Ananda Tumbuh dan Berkembang Sesuai Dengan "Dunianya"
Andhika Harya
Former STIFIn Institute

tesstifin.id

Jika Ananda SENSING, dorong mereka untuk lebih banyak bergerak. Biarkan mereka melepaskan energi besar yang mereka miliki karena semakin aktif mereka, maka semakin sehatlah kondisi fisik dan psikis mereka.

Jika ananda THINKING, perbanyak penjelasan tentang hal-hal di sekitar mereka termasuk peraturan2-peraturan yang harus mereka taati. Puaskan rasa keingintahuan mereka dengan rajin menjelaskan dan tak lupa rajin menjawab semua pertanyaan kritis mereka dengan jawaban yang logis.

Jika ananda INTUITING, berikan keleluasaan untuk eksplorasi sesuai minat. Jika minatnya adalah menggambar, sediakan kertas dan alat gambar sebagai media menyalurkan ekspresinya. Jika minatnya ada pada astronomi, sediakan teleskop agar mereka bisa leluasa menjelajah alam semesta. Pendek kata : bebaskan seluas mungkin apa yang menjadi minatnya. 

Jika Ananda FEELING, perbanyak ngobrol dan bercengkerama dengan mereka. Dorong mereka untuk berteman dan bermain dengan teman-temannya. Jika mereka curhat, maka luangkan waktu khusus untuk menyimak dan menimpali. Dorong mereka untuk semakin ceriwis dan semakin banyak bicara.

Jika ananda INSTING, libatkan mereka dalam aktifitas harian rumah tangga. Ajakan untuk menyapu rumah, menyirami tanaman, dan aktifitas yang biasa anda lakukan, sesungguhnya adalah gemblengan terbaik untuk mengasah keterlibatan dan keserba bisaannya.

Mengapa Begini, Mengapa Begitu?

Penjelasan STIFIn Mengapa Begini Mengapa Begitu- tesstifin.id 081805180808
Hasil tes STIFIn seseorang pada dasarnya adalah penjelasan potensi genetik, bukan deskripsi tentang perilaku atau sifat ybs pada saat melakukan tes STIFIn.
Andhika Harya STIFIn Institute - Mengapa Begini, Mengapa Begitu?
Andhika Harya
Former STIFIn Institute

tesstifin.id

_Kok Feeling gitu amat yak?_  

 _Kenapa Thinking jadi lebay gitu?_   

_Katanya Sensing? Kok hafalan payah?  

_Intuiting dari Hong Kong? Ga ada kreatif2nya!_ 

 _Beneran Insting? Kok matre gitu?_

     Pernahkah mendengar statement yang kurang lebih seperti diatas? Biasanya statement tersebut muncul dari celetukan harian orang2 yang sudah saling tahu Mesin Kecerdasan (MK) masing2. Sesekali juga muncul dari seseorang (biasanya yang sudah dewasa) ketika tahu hasil tes STIFIn nya. Hasil tes STIFIn yang (menurut ybs) gak gue banget. Hehehe.

     Lantas apakah hasil tes STIFIn nya salah? Bisa jadi. Namun tidak selalu. Jadinya : belum tentu.

(Nah lho. Bingung kan? Hehehe. Sabaaarr… ini juga mau dijelaskan kok. Hehehe.)

     Perilaku keseharian seseorang adalah ranah Fenotip. Dimana berdasarkan rumus 

Fenotip = Genetik + Lingkungan, 

maka perilaku keseharian seseorang (Fenotip) terpengaruh oleh 2 aspek yaitu bawaan lahir (Genetik) dan pengaruh dari orang-orang terdekat, teman-teman, dan kejadian atau peristiwa-[eristiwa dalam hidupnya (Lingkungan). Dimana aspek lingkungan ternyata 4x lebih besar pengaruhnya dibanding aspek genetik (80% vs 20%). Sementara hasil tes STIFIn adalah sebagian dari aspek Genetik (penjelasan ada di artikel selanjutnya). Sehingga aspek genetik ini sangat mungkin untuk tertutup atau kalah kuat pengaruhnya dengan aspek lingkungan.

Analogi lain yang saya gunakan adalah :

– Fenotip adalah kue yang sudah matang dan siap saji

– Genetik adalah aneka bahan pembuat kue (tepung terigu, gula, keju, mentega, dll)

– Lingkungan adalah resep, takaran, cara memasak, dll

     Dengan analogi diatas, bukankah semua kue bisa dibilang bahan dasarnya sama? Lantas kenapa ada kue lumpur, soes, brownies, cake, dll dengan aneka rasa dan tampilan? Atau sama2 cake dengan tampilan yang sama, kenapa rasanya atau lezatnya beda? Ternyata faktor pembedanya adalah resep, takaran, dan cara memasak.

     Maka inilah hakekat dari potensi. Semua hal dari aspek genetik pada dasarnya baru berupa potensi. Potensi tidak akan muncul menjadi kompetensi jika tidak di gembleng. Atau analogi yang lain : terigu, keju, mentega terbaik belum tentu jadi kue yang enak jika tidak diikuti dengan resep, takaran, dan cara masak yang tepat.

     Maka demikian juga dengan perilaku untuk setiap Mesin Kecerdasan (MK). Ada Sensing yang rajin, detail, teliti, hafalan kuat, dan ada juga Sensing yang malas-malasan, ceroboh, hafalan payah (dan demikian juga dengan MK yang lain ya. Tidak perlu saya contohkan satu persatu, kepanjangan euy. Hehehe). Semuanya bergantung kepada bagaimana lingkungannya selama ini. Ada yang cukup beruntung mendapatkan lingkungan yang tepat atau sesuai dengan MK-nya, ada pula yang berada pada lingkungan yang berbeda atau bahkan bertolak belakang dengan MK-nya.

Maka kompetensi adalah potensi yang masih perlu di gembleng.

atau bisa juga

potensi tidak akan mewujud menjadi kompetensi jika penggemblengan tidak tepat atau bahkan tidak terjadi.

     Nah, kembali kepada situasi sehari2 dimana ada seseorang yang belum menunjukkan perilaku atau karakter unggul sesuai dengan MK masing-masing maka artinya yang bersangkutan perlu melakukan evaluasi berkaitan dengan aktifitas harian dan/atau lingkungan sekitarnya. Bisa jadi ybs berada pada lingkungan yang kurang tepat atau bahkan bertolak belakang dengan MK-nya.

     Maka sebaiknya kita tepat menempatkan hasil tes STIFIn. Hasil tes STIFIn seseorang pada dasarnya adalah penjelasan potensi genetik, bukan deskripsi tentang perilaku atau sifat yang bersangkutan pada saat melakukan tes STIFIn. Jadi wajar saja jika ada perbedaan antara hasil tes STIFIn seseorang dengan perilaku keseharian ybs. Yang perlu dilakukan adalah selanjutnya apa yang perlu dilakukan dan bagaimana strategi yang paling tepat agar potensi genetik atau keunggulan karakter sesuai MK-nya bisa dimunculkan.

     Maka pertanyaan paling penting setelah melakukan tes STIFIn sebenarnya bukanlah “Why” (kenapa kok saya begini, begitu, dst) tapi yang paling penting adalah “What’s Next” (apa langkah selanjutnya setelah tahu MK-nya) dan “How” (bagaimana strategi terbaik agar keunggulan potensi genetiknya bisa muncul).

 

     Apakah “Why” haram untuk dibahas? Tentu saja tidak. Tapi sebaiknya porsinya sedikit saja, secukupnya sekedar untuk menuntaskan rasa ingin tahu. Dan jika masih belum puas, nantikan di artikel selanjutnya 

Penulis : Andhika Harya

Peningkatan Kompetensi Guru MAN 2 Bekasi Melalui Tes STIFIn

STIFIn Goes To School MAN 2 Bekasi 081805180808 tesstifin.id

tesstifin.id – Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat telah menyebabkan dunia semakin sempit dan membentuk masyarakat global yang saling bergantung. Dalam tatanan dunia baru yang ditandai dengan persaingan antarbangsa yang semakin ketat, kualitas kehidupan domestik suatu bangsa memainkan peran yang amat penting. Kualitas manusia yang dibutuhkan oleh bangsa Indonesia pada masa depan adalah mampu menghadapi persaingan yang semakin ketat dengan bangsa lain di dunia.

Kompetensi Guru STIFIn Teaching tesstifin.id 081805180808 - Peningkatan Kompetensi Guru MAN 2 Bekasi Melalui Tes STIFIn

Kualitas manusia Indonesia tersebut dihasilkan melalui penyelenggaraan pendidikan yang bermutu oleh pendidik atau guru profesional. Guru yang bermutu sudah menjadi tuntutan global sebagaimana yang ada dalam dokumen United Nations Sustainable Development Goals 2015–2030 yang mengingatkan bahwa pada tahun 2030 seluruh pemerintahan negara-negara di dunia harus mampu menjamin bahwa siswa-siswa harus dididik oleh guru-guru yang berkualifikasi, terlatih, profesional, dan sosok motivator yang baik. Demikian pentignya faktor guru, maka sistem dan praktik pendidikan yang berkualitas pada hampir semua bangsa di dunia selalu mengembangkan kebijakan yang mendorong peningkatan guru yang kompeten dan profesional.

Sementara menurut Broke & Stone mengemukakan bahwa kompetensi sebagai ”Descriptive of qualitative nature of teacher behavior appears to be entirely meaningfull ” (Mulyasa, 2013: 62). Artinya kompetensi merupakan gambaran hakikat kualitatif dari perilaku guru atau tenaga kependidikan yang tampak sangat berarti. Melihat pengertian di atas, dapat dikatakan bahwa kompetensi merupakan perpaduan dari pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Peningkatan kompetensi guru dapat terwujud dengan baik apabila sekolah sebagai organisasi pendidikan bisa melaksanakan pengembangan diri dengan prosedur yang benar yaitu :
Melakukan analisis kebutuhan pelatihan dan pengembangan, Menentukan tujuan pelatihan dan pengembangan, Melaksanakan program pelatihan dan pengembangan, dan Melakukan evaluasi dan modifikasi pelatihan dan pengembangan.

Selain itu, motivasi guru untuk maju juga merupakan kunci keberhasilan peningkatan kompetensi guru yang meliputi kompetensi: pedagogik, profesional, kepribadian, dan sosial. Juga melakukan pengembangan diri. Kegiatan pengembangan diri harus mengutamakan kebutuhan guru untuk pencapaian standar dan peningkatan kompetensi profesi, khususnya yang berkaitan dengan pelaksanaan layanan pembelajaran. Kebutuhan tersebut mencakup kompetensi menyelidiki dan memahami konteks di tempat guru mengajar, penguasaan materi dan kurikulum, penguasaan metode pembelajaran, kompetensi melakukan evaluasi peserta didik dan pembelajaran, penguasaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK), atau pun kompetensi lain yang relevan.

Kegiatan pengembangan diri dilakukan dengan 2 macam cara yaitu pendidikan dan pelatihan (diklat), dan kegiatan kolektif guru. Diklat fungsional adalah kegiatan guru dalam mengikuti pendidikan dan latihan yang bertujuan untuk mencapai standar kompetensi profesi dan meningkatkan keprofesian untuk memilki kompetensi di atas standard dan dalam kurun waktu tertentu. Kegiatan ini dapat berupa kursus, pelatihan, penataran, maupun berbagai bentuk diklat yang lain. Guru dapat mengikuti kegiatan diklat fungsional atas dasar penugasan, baik oleh kepala sekolah/madrasah, atau institusi yang lain seperti Dinas Pendidikan, atau organisasi profesi, atau karena inisiatif guru itu sendiri.

STIFIn Teaching tesstifin.id 081805180808 - Peningkatan Kompetensi Guru MAN 2 Bekasi Melalui Tes STIFIn

Adapun kegiatan kolektif guru adalah kegiatan dalam mengikuti pertemuan ilmiah atau kegiatan bersama yang bertujuan untuk mencapai standar atau di atas standar kompetensi profesi yang telah ditetapkan. Dan salah satu kegiatan kolektif guru yang dilakukan oleh Kepala MAN 2 Bekasi ibu Nina Indriani adalah dengan melakukan Tes STIFIn.

Tes STIFIn merupakan salah satu metode yang digunakan untuk mengetahui minat, bakat dan potensi diri seseorang berdasarkan sistem operasi belahan otak paling dominan. Belahan otak dominan ini disebut sebagai mesin kecerdasan manusia. STIFIn merupakan singkatan dari 5 bagian belahan otak manusia.

Belahan Otak Dominan dalam Konsep STIFIn tesstifin.id 081805180808 - Peningkatan Kompetensi Guru MAN 2 Bekasi Melalui Tes STIFIn

Umumnya, manusia memiliki 5 belahan otak dengan fungsi dan cara kerjanya masing-masing. Setiap belahan otak tersebut bekerja dengan caranya sendiri. Perbedaan fungsi dan cara ini yang membuat manusia memiliki perbedaan cara berpikir, tindakan hingga sikap. 5 belahan otak dominan manusia Dari sejumlah teori, tes STIFIn dibagi ke dalam lima kelompok, yaitu sensing, thinking, intuiting, feeling dan insting. Berikut penjelasannya: Sensing: sistem operasi otak satu ini terletak di belahan otak kiri bawah alias sistem limbik kiri. Orang dengan keunggulan sensing biasanya mempunyai memori yang kuat dan rajin. Thinking: letak sistem operasi otak ini di belahan otak kiri atas atau sistem neokorteks kiri. Orang dengan keunggulan thinking biasanya pandai dan suka menganalisa. Intuiting: berada di sistem neokorteks atau di belahan otak kanan atas. Orang dengan keunggulan ini biasanya mempunyai keahlian inovatif dan kreatif.

Feeling: terletak di sistem limbik kanan alias di belahan otak kanan bawah. Orang yang memiliki keunggulan feeling biasanya mempunyai kecerdasan emosi dan naluri sosial.  Insting: sistem naluri ini berada di belahan otak kanan. Orang dengan keunggulan ini biasanya memiliki kemampuan serba bisa dan kecerdasan naluri.  Cara kerja dan manfaat Tes STIFIn ini bisa dilakukan dengan memindai sepuluh jari. Tes ini bertujuan untuk mengetahui belahan otak mana yang lebih dominan menjadi sistem operasi. Tes sidik jari STIFIn hanya bisa dilakukan secara langsung dengan metode Fingerprint Test sehingga hanya dapat dilakukan oleh promotor STIFIn yang berlisensi. Dengan melakukan tes STIFIN, kita bisa mengetahui dan mengenali minat, bakat dan ketertarikan diri. Dengan mengetahui apa yang lebih dominan dalam diri, nantinya bisa memudahkan untuk meraih kesuksesan melalui pilihan profesi maupun karier sesuai bakat dan minat yang dimiliki oleh guru.

Seperti dijelaskan di atas, untuk mengetahui kompetensi guru maka dilakukan Tes STIFIn untuk meningkatkan kompetensi guru dan hasil tes itulah yang menjadi dasar atau tolak ukur dalam peningkatan kompetensi guru. Dengan demikian, hasil tes STIFIn merupakan salah satu kompetensi yang menjadi basis utama desain program peningkatan kompetensi guru sekaligus menentukan kelayakannya. Dengan demikian, Tes STIFIn diharapkan mampu meningkatkan kompetensi guru dan Kepala madrasah dapat mengetahui dan memberikan tugas tambahan,menilai dan menetapkan apakah guru sudah kompeten atau belum dilihat dari standar kompetensi yang dimiliki oleh guru.

Ikuti Tes STIFIn untuk Menemukan Potensi Terbesar Anda Berdasarkan Sidik Jari Anda Sekarang Juga! Tes STIFIn

Apa Itu Tes STIFIn - WA 081805180808
STIFIn Video - Ikuti Tes STIFIn untuk Menemukan Potensi Terbesar Anda Berdasarkan Sidik Jari Anda Sekarang Juga! Tes STIFIn

TESSTIFIN.id– Mungkin masih banyak sekali orang yang belum tau tentang apa itu tes STIFIn. 

STIFIn ialah singkatan dari Sensing, Thinking, Intuiting, Feeling dan Insting.

STIFIn itu sendiri merupakan sebuah konsep untuk mengindentifikasi kecerdasan manusia (potensi terbesar) berdasarkan sistem operasi otak yang dominan dan dapat diketahui dengan cara memindai sidik jari.

Berdasarkan pencarian tim Fokus Muria, ada yang menjelaskan bahwa metode STIFIn terdiri dari teori psikologi, neuroscience, dan ilmu sumber daya manusia.

Metode tersebut ditujukan untuk mengenali sekaligus memahami tentang karakter dan kepribadian dari masing-masing manusia.

Hal tersebut merupakan konsep yang sering dipakai dalam hal mengidentifikasi kecerdasan manusia dengan sistem operasi otak yang dominan.

Sehingga dapat diketahui dengan memindai sidik jari.

Tes STIFIn ini membutuhkan proses scan 10 sidik jari. Tes STIFIn tersebut membutuhkan setidaknya aplikasi promotor STIFIn dan alat fingerprint.

Prosesnya tentu saja memerlukan scan sidik jari terlebih dahulu, lantas data tersebut dikirim ke server pusat untuk diolah dan menghasilkan hasil tes yang dapat didownload dan dicetak dalam bentuk sertifikat STIFIn.

STIFIn Institute adalah institusi yang secara legal dapat mengeluarkan lisensi tersebut.

Pada dasarnya, alat-alat yang tersebut di atas tidak dapat dimiliki dengan sembarang.

Sehingga tidak bisa dengan mudahnya melakukan tes STIFIn di rumah.

Sumber : fokusmuria.co.id

Anda bisa melakukan tes STIFIn melalui Promotor STIFIn yang tersebar di seluruh Indonesia dan Luar Negeri.

Harga STIFIn berlaku secara nasional. Tidak ada perbedaan harga. Anda bisa melaporkan bila ada harga yang berbeda.

Silakan hubungi kami, untuk informasi mengenai Tes STIFIn dan lokasi tesnya:

Tes STIFIn – Indonesia
HP/WhatsApp 0818 0928 0203

atau klik:
https://wa.me/6281809280203