Rumah Quran STIFIn

Rumah Quran STIFIn
STIFIn Rumah Quran STIFIn - Rumah Quran STIFIn

TESSTIFIN.id -Rumah Quran STIFIn RQS adalah progam penggemblengan menghafal Al-Quran 30 Juz dalam waktu 7 (tujuh) bulan dengan menggunakan Metode Tahfizd STIFIn dan Metode RQS, wajib mukim/berasrama dan full beasiswa (GRATIS) .

Dengan adanya program RQS membuat masyarakat melek bahwa menghafal Al-Quran ternyata bisa dilakukan dengan cepat dan mudah, jika menggunakan Metode Tahfizd STIFIn dan Metode RQS. Alhamdulillah sejak RQS berdiri dari tahun 2012 hingga saat ini sudah mewisuda 706 santri.

RQS memiliki target mewisuda 3000 santri setiap tahun dan dengan jumlah titik 100 lokasi RQS.

Visi Rumah Quran STIFIn RQS :

Menaikkan spiritualitas umat Islam dengan menjamurkan para penghafal Al-Quran di merata tempat.

Misi Rumah Quran STIFIn  RQS :

Mencetak 3000 penghafal Al-Quran setiap tahun, dengan standar hafal 30 Juz mutqin (hafal lancar) 15 Juz dalam waktu 7 (tujuh) bulan.

Komitmen Rumah Quran STIFIn RQS :

Memberikan beasiswa full kepada seluruh santri RQS.

STIFIn Rumah Quran STIFIn 1 - Rumah Quran STIFIn

Cara Menghafal Al-Qur’an Cepat Oleh Pesantren Motivator Qur’an Ekselensia Indonesia Menggunakan Metode STIFIn

Rumah Quran STIFIn
STIFIn Tahfiz - Cara Menghafal Al-Qur'an Cepat Oleh Pesantren Motivator Qur'an Ekselensia Indonesia Menggunakan Metode STIFIn

Kitab suci Al-Qur’an tidak pernah lekang untuk diteliti dan dikaji oleh siapapun. Tidak hanya oleh umat Islam melainkan juga oleh non-muslim. Hal itu karena Al-Qur’an diposisikan sebagai kitab petunjuk yang menjadi dasar dan pedoman dalam menjalani kehidupan. Maka tidaklah berlebihan kiranya jika dikatakan bahwa tidak ada kitab suci di dunia ini, yang mendapat apresiasi dari penganutnya, yang melebihi apresiasi yang diberikan terhadap kitab suci Al-Qur’an (Mustaqim, 2017: 104).

Abdullah Darras, seorang pengkaji al-Qur’an berkebangsaan Mesir, menyatakan bahwa al-Qu’ran bagaikan intan yang setiap sudutnya memancarkan sinar. Setiap orang yang melihatnya akan mendapatkan pancaran sinar yang berbeda dengan orang lain. Begitu seterusnya, hingga andai seseorang membaca al-Qur’an hari ini, ia akan mendapatkan pemahaman yang berbeda dengan hari kemarin.

Di Indonesia sendiri, Al-Qur’an selalu diposisikan sebagai sesuatu yang sangat istimewa. Sebagai pemeluk agama Islam terbesar di dunia, interaksi masyarakat Indonesia dengan al-Qur’an ditampilkan dalam berbagai ekspresi, misalnya diekspresikan melalui lisan seperti seni tilawah, melalui tulisan seperti kaligrafi, pengamalan sehari-hari, bahkan dieksperikan sebagai pengalaman spiritual-emosional seperti jimat dan bacaan tertentu yang diyakini memuat nilai magis. Hal itu bersumber dari belief (keyaninan) mereka terhadap al-Qur’an, di mana berinteraksi dengan Al-Qur’an secara maksimal akan memperoleh keberkahan dan kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat.

Menghafal al-Qur’an merupakan bagian dari salah satu interaksi yang paling dominan digemari masyarakat muslim. Dalam catatan sejarah, praktik menghafal merupakan perlakuan umat Islam paling awal yang pernah dipraktikkan oleh sahabat nabi. Interaksi yang demikian itu adalah termasuk di antara bagian respon umat muslim dalam memperlakukan dan berinteraksi dengan Al-Qur’an. Itulah yang disebut dengan Living Qur’an atau Al-Qur’an in everyday life (Mustaqim, 2017: 105-106).

Living Qur’an atau Al-Qur’an in everyday life merupakan bagian dari cara memahami Al-Qur’an. Bahkan Al-Qur’an in everyday life oleh Prof. Dr. Abdul Mustaqim dikategorikan sebagai bagian dari metode atau pengembangan kajian Al-Qur’an atau menafsirkannya, sehingga studi Qur’an tidak hanya berkutat pada wilayah kajian teks. Pada wilayah living Qur’an atau Al-Qur’an in everyday life ini kajian tafsir akan lebih banyak mengapresiasi respon dan tindakan masyarakat masyarakat terhadap kehadiran Al-Qur’an.

Salah satu contoh bagaimana umat Islam berinteraksi dengan Al-Qur’an seperti pernah dilakukan oleh Dr. Frederick M. Denny (Profesor kajian-kajian Keislaman pada Development of Relegious Studies Universitas Colorado Boulder USA). Dia pernah melakukan penelitian berkaitan dengan etika atau adab membaca Al-Qur’an.

Pesantren Motivator Quran Ekselensia Indonesia juga melakukan salah satu upaya bagaimana menghafal Al-Qur’an yang mudah menggunakan salah satu metode Finger Qur’an yang ditemukan oleh pengasuh pesantren tersebut, Ustadz Edy Susanto (Ach. Zayyadi dkk., “Pendampingan Hafalan al-Qur’an melalui Metode Finger Qur’an di Pesantren”, dalam jurnal GUYUB: Journal of Community Engagement, 2021), yang dalam praktik menghafal al-Qur’an dengan menggunakan teori STIFIN.

Pendampingan diklasifikasikan pada tingkat kecenderungan peserta didik setelah dilakukan test dengan finger. Sudah barang tentu, dalam proses menghafal al-Qur’an, strategi dan metode yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan kecenderungan tersebut.

Dengan klasifikasi finger Qur’an, maka peserta didik dibagi kedalam 5 kelompok, yaitu kelompok sensing, kelompok thinking, kelompok intuiting, kelompok feeling, dan kelompok instinct.

Bagi kelompok sensing, strategi hafalan ditekankan pada pengulangan, mengingat warna, dan tanda. Adapun proses menghafalnya ditempuh melalui tahap-tahap sebagai berikut;

  1. peserta didik memilih warna potongan kertas sesuai dengan selera. Selanjutnya, peserta didik menuliskan tanda yang mudah diingat pada kertas tersebut, misalnya awal ayat, atau kata yang sulit dihafal, atau ayat yang memiliki kemiripan dengan ayat lain, dan seterusnya;
  2. memberikan tanda pada setiap permulaan ayat. Hal ini dilakukan untuk mempermudah peserta didik ketika akan memulai hafalan;
  3. peserta didik diminta untuk membaca satu halaman (mushaf) yang akan dihafal beserta terjemahannya;
  4. menandai ayat yang memiliki kemiripan dengan bolpoin warna;
  5. peserta didik diperintahkan untuk membagi satu halaman al-Qur’an tersebut menjadi dua bagian;
  6. peserta didik diperintahkan untuk menbaca sebanyak 20 kali pada masing-masing bagian dan mengingatnya pada permulaan ayat;
  7. kemudian menandai kata yang sulit dengan bolpoin yang berbeda warna;
  8. melafalkan 10 kali pada masing-masing kata yang sulit dihafal;
  9. kemudian menggabungkan kedua bagian halaman tersebut dan melafalkannya sebanya lima kali;
  10. mengulang kembali sebanyak lima kali hingga hafalan menjadi sempurna;
  11. sebagai langkah terakhir adalah santri diperintahkan untuk menyetorkan hafalannya kepada trainer. Strategi kelompok sensing tentu berbeda dengan strategi kelompok lain.

Kelompok thingking memiliki strategi sendiri yaitu:

  1. kelompok thingking membagi halaman mushaf al-Qur’an menjadi tiga bagian, atau menjadi lima baris;
  2. peserta didik dituntut untuk membawa alat tulis dan kertas untuk menandai setiap awal dan akhir ayat; 
  3. Peserta didik diperintahkan untuk membagi 60 menit menjadi 6 bagian, yaitu 10 untuk membaca halaman mushaf yang akan dihafal beserta terjemahannya, 10 menit berikutnya peserta didik diperintahkan untuk mengtahui terjemah masing-masing lafal dalam halaman mushaf yang akan dihafal. 10 menit ketiga peserta didik memulai menghafalkan 5 baris pertama, 10 menit keempat peserta didik diperintahkan menghafal 5 baris kedua, dan 10 menit kelima peserta didik diperintahkan menghafal 5 baris ketiga. 10 menit kelima, atau yang terakhir, perserta didik diperintahkan untuk menggabungkan seluruhnya menjadi hafalan yang utuh.

Proses menghafal kelompok intuiting lebih menekankan pada aspek intuisi. Maksudnya, ia akan mudah menghafal ketika membaca terjemahannya dan kemudian membayangkan alur cerita dalam ayat tersebut. Strategi proses menghafal kelompok intuiting melalui beberapa tahap sebagai berikut:

  1. peserta didik dituntut untuk membaca terjemahannya dan memahami alur cerita yang dikandung ayat tersebut;
  2. setelah mengetahui terjemahan dan memahami alur cerita dalam ayat tersebut, kelompok intuiting mengulang-ulang bacaannya hingga hafal;
  3. pada prose hafalan, santri diperintahkan untuk menandai kata-kata yang mirip dan sulit dihafal dengan bolpoin warna;
  4. langkah pendampingan berikutnya adalah memerintahkan kepada peserta didik untuk memperagakan ayat yang dihafal. Dengan peragaan ini, tipe intuiting akan lebih mudah dalam menghafal.

Proses menghafal kelompok feeling juga berbeda dengan kelompok-kelompok sebelumnya. Kelompok ini bergantung pada suasa dan kondisi tempat dimana peserta didik mengahfal al-Qur’an. Adapun strategi yang dilakukan pada kelompok ini adalah sebagai berikut; 

  1. peserta didik didampingi untuk mendengarkan ayat al-Qur’an yang akan dihafalkan sebanyak 10 kali;
  2. setelah itu, peserta didik kemudian membacanya dengan berulang-ulang hingga 10 kali. Seperti halnya kelompok intuiting, kelompok feeling juga dipandung untuk menghadirkan alur cerita yang dikandung oleh al-Qur’an;
  3. peserta didik diperintahkan untuk menghafalkan ayat demi ayat dengan menghayati kandungannya hingga satu halaman utuh;
  4. langkah berikutnya adalah tasmi’, yaitu memperdengarkan.

Selanjutnya, kelompok instinct memerlukan kondisi yang tenang, tentram, dan situasi yang kondusif. Adapun strategi yang dilakukan oleh  kelompok ini adalah sebagai berikut;

  1. peserta didik kelompok instinct dibebaskan untuk mencari tempat yang menurutnya tenang, damai dan kondusif untuk menghafal al-Qur’an;
  2. kelompok instinct didampingi untuk menghafalkan al-Qur’an dengan cara menghayati kandungan ayat, mendengarkan ayat yang akan dihafal, dan mempertagakan kandungan ayat. Jadi, kelompok ini membutuhkan seluruh indera untuk dapat dengan cepat menghafal al-Qur’an;
  3. selanjutnya, kelompok ini membaca ayat per-ayat yang akan dihafal sebanyak 20 kali, menghubungkannya dengan ayat lain sebanyak 20 kali, dan 20 kali mengulang tanpa melihat mushaf.

Sumber : www.motivatorquran.org